Minggu, 20 Desember 2009

Kucing Kampung VS Harimau


Kenapa pepatah dulu berkata seperti beli kucing dalam karung bukan seperti beli harimau dalam karung? Kita tentu tahu beda harimau dan kucing. Bahkan anak TK pun tak perlu berpikir untuk memilih mana kucing, mana harimau ketika ia disodorkan gambar-gambar binatang. Tapi, ini bukan masalah beda kucing dan harimau semata. Kita yang merasa lebih dewasa dan berilmu, mari coba bedakan lebih filsafatis lagi.
Mengenai pepatah tadi, jelas tak mungkin dipilih kata harimau. Tentu saja karena jenis warna bulu harimau lebih sedikit dibanding warna bulu kucing meskipun dalam ilmu biologi kucing dan harimau itu satu family. Coba amati saja kucing-kucing yang ada di sekitar kita, itu baru kucing Indonesia, belum lagi kucing Anggora, kucing Persia, kucing Eropa. Padahal para peternak pun tak segan untuk mengawinsilangkan antara beberapa jenis itu. Maka jika kita disuruh beli kucing dalam karung, pasti kita akan bingung kucing apa yang ada di dalamnya.
Satu lagi sebab kenapa harimau tak dipilih dalam pepatah tadi. Hehe, jelas karena harimau tak akan mau dimasukkan dalam karung. Karung itu kan identik dengan sempit, kotor, dan bau. Mana ada harimau yang mau masuk dalam karung? Lagipula sekarang siapa yang mau memasukkan harimau ke dalam karung? Hehe,.
Masalahnya sekarang, dalam kehidupan ini kita bertindak sebagai harimau atau kucing? Kalau kita sebagai harimau, maka santai sajalah karena kita memiliki taring serta cakar yang tajam dan kuat. Jika kita sebagai kucing maka bersiaplah untuk bersolek seindah mungkin agar orang-orang mau memerhatikan kita. Kenapa? Karena yang ada di kebun binatang kan cuma harimau. Kucing tak mungkin ada di sana untuk dipertontonkan, kecuali kalau kita kucing-kucing cantik seperti Anggora dan Persia yang berbulu panjang dan berhidung pesek.
Lalu bagaimana jika ternyata saat dilahirkan di dunia kita sudah ditakdirkan sebagai kucing, kucing kampong lagi! Siapa yang mau melihat kita? Siapa yang mau peduli terhadap kita? Ya nggak? Tenang bung! Dunia tak sesempit daun jeruk. Haha. Harusnya kita bersyukur jika kita memang dilahirkan sebagai kucing kampung. Enak lho! Beneran. Kucing kampung itu kan makannya apa aja, tidurnya di mana aja. Coba lihat mereka-mereka yang dilahirkan sebagai kucing pesolek. Makan saja bingung, kalau bukan makanan instant tak mau. Takut bulunya rontok. Tidur pun suhu ruangan harus diatur, takut masuk angin. Buset! Coba lihat saudara-saudara kita yang dilahirkan sebagai harimau. Nasibnya juga tak seberuntung kita yang kucing-kucing jalanan. Mereka harus makan daging. Padahal daging itu kan mahal, banyak virus, dan mengandung kolesterol. Mereka juga hidupnya tak tenang. Yang di hutan, harus pandai-pandai menjaga diri agar tak di taklukkan oleh harimau lainnya. Mereka juga harus siap-siap dihadang pemburu-pemburu yang suka akan kulitnya. Yang ada di kebun binatang juga hidupnya tak bebas, di balik jeruji. Setiap hari harus melayani orang-orang yang ingin menonton dirinya.
Dari contoh-contoh kecil di atas, hoi kucing-kucing kampung, kalian masih mau jadi harimau? Masih mau berpura-pura jadi kucing pesolek?! Sadar diri saja lah. Kemampuan kita seberapa. Nggak ada yang peduli sama kita juga nggak masalah kok. Yang penting kita bisa hidup tenang, sehat sentosa, bahagia lahir batin. Yang menganggap hidup kita susah juga diri kita sendiri. Harusnya kita bangga sebagai kucing kampung. Warna kita lebih banyak, lebih beragam. Hidup kita lebih ringan dan simple. Paling-paling kita berantem kalau pas rebutan kucing betina atau berebut makanan dari tong sampah. Tapi kan nggak sampai bertaruh nyawa. (mudah-mudahan). Ngemeng-ngemeng, ada satu kucing yang belum dibahas ney.

Kucing garong…………!!!!

Ada yang berkenan membahasnya???

1 komentar: