Oleh:
Adhipati Genk Kobra
Nok.... yen sesuk aku bali ngadep Gusti
Aja Bok tangisi.....
Apa maneh kok getuni......
Cukup ucapan INNALILLAHI.....
Lan sewu donga kanggo ngiring.....
Aku kesel, Aku pengen leren....
Aku ngantuk, Aku..... pengen turu......
Senin, 21 Desember 2009
Minggu, 20 Desember 2009
PERGI
Oleh: Abu Milik Gusti Pengeran
aku mulai pergi, dengan hampa menjadi teman yang selalu lupa pada akhirnya
pergi menantang resah
dan
lebih jauh untuk tuai bunga didepan mukaku
yang sudah terserat sesat luruskan padat mandat
semakin aku dekat pada resah
semakin luka lurus menyilang mukaku untuk datang padanya
padahal aku hanya dengan senjata sederhana
sebuah tulang rusuk patah dan menangis
aku mulai pergi, dengan hampa menjadi teman yang selalu lupa pada akhirnya
pergi menantang resah
dan
lebih jauh untuk tuai bunga didepan mukaku
yang sudah terserat sesat luruskan padat mandat
semakin aku dekat pada resah
semakin luka lurus menyilang mukaku untuk datang padanya
padahal aku hanya dengan senjata sederhana
sebuah tulang rusuk patah dan menangis
Kucing Kampung VS Harimau
fiOleh:
Fiar Kawannya Teman Teman
Fiar Kawannya Teman Teman
Kenapa pepatah dulu berkata seperti beli kucing dalam karung bukan seperti beli harimau dalam karung? Kita tentu tahu beda harimau dan kucing. Bahkan anak TK pun tak perlu berpikir untuk memilih mana kucing, mana harimau ketika ia disodorkan gambar-gambar binatang. Tapi, ini bukan masalah beda kucing dan harimau semata. Kita yang merasa lebih dewasa dan berilmu, mari coba bedakan lebih filsafatis lagi.
Mengenai pepatah tadi, jelas tak mungkin dipilih kata harimau. Tentu saja karena jenis warna bulu harimau lebih sedikit dibanding warna bulu kucing meskipun dalam ilmu biologi kucing dan harimau itu satu family. Coba amati saja kucing-kucing yang ada di sekitar kita, itu baru kucing Indonesia, belum lagi kucing Anggora, kucing Persia, kucing Eropa. Padahal para peternak pun tak segan untuk mengawinsilangkan antara beberapa jenis itu. Maka jika kita disuruh beli kucing dalam karung, pasti kita akan bingung kucing apa yang ada di dalamnya.
Satu lagi sebab kenapa harimau tak dipilih dalam pepatah tadi. Hehe, jelas karena harimau tak akan mau dimasukkan dalam karung. Karung itu kan identik dengan sempit, kotor, dan bau. Mana ada harimau yang mau masuk dalam karung? Lagipula sekarang siapa yang mau memasukkan harimau ke dalam karung? Hehe,.
Masalahnya sekarang, dalam kehidupan ini kita bertindak sebagai harimau atau kucing? Kalau kita sebagai harimau, maka santai sajalah karena kita memiliki taring serta cakar yang tajam dan kuat. Jika kita sebagai kucing maka bersiaplah untuk bersolek seindah mungkin agar orang-orang mau memerhatikan kita. Kenapa? Karena yang ada di kebun binatang kan cuma harimau. Kucing tak mungkin ada di sana untuk dipertontonkan, kecuali kalau kita kucing-kucing cantik seperti Anggora dan Persia yang berbulu panjang dan berhidung pesek.
Lalu bagaimana jika ternyata saat dilahirkan di dunia kita sudah ditakdirkan sebagai kucing, kucing kampong lagi! Siapa yang mau melihat kita? Siapa yang mau peduli terhadap kita? Ya nggak? Tenang bung! Dunia tak sesempit daun jeruk. Haha. Harusnya kita bersyukur jika kita memang dilahirkan sebagai kucing kampung. Enak lho! Beneran. Kucing kampung itu kan makannya apa aja, tidurnya di mana aja. Coba lihat mereka-mereka yang dilahirkan sebagai kucing pesolek. Makan saja bingung, kalau bukan makanan instant tak mau. Takut bulunya rontok. Tidur pun suhu ruangan harus diatur, takut masuk angin. Buset! Coba lihat saudara-saudara kita yang dilahirkan sebagai harimau. Nasibnya juga tak seberuntung kita yang kucing-kucing jalanan. Mereka harus makan daging. Padahal daging itu kan mahal, banyak virus, dan mengandung kolesterol. Mereka juga hidupnya tak tenang. Yang di hutan, harus pandai-pandai menjaga diri agar tak di taklukkan oleh harimau lainnya. Mereka juga harus siap-siap dihadang pemburu-pemburu yang suka akan kulitnya. Yang ada di kebun binatang juga hidupnya tak bebas, di balik jeruji. Setiap hari harus melayani orang-orang yang ingin menonton dirinya.
Dari contoh-contoh kecil di atas, hoi kucing-kucing kampung, kalian masih mau jadi harimau? Masih mau berpura-pura jadi kucing pesolek?! Sadar diri saja lah. Kemampuan kita seberapa. Nggak ada yang peduli sama kita juga nggak masalah kok. Yang penting kita bisa hidup tenang, sehat sentosa, bahagia lahir batin. Yang menganggap hidup kita susah juga diri kita sendiri. Harusnya kita bangga sebagai kucing kampung. Warna kita lebih banyak, lebih beragam. Hidup kita lebih ringan dan simple. Paling-paling kita berantem kalau pas rebutan kucing betina atau berebut makanan dari tong sampah. Tapi kan nggak sampai bertaruh nyawa. (mudah-mudahan). Ngemeng-ngemeng, ada satu kucing yang belum dibahas ney.
Kucing garong…………!!!!
Ada yang berkenan membahasnya???
SURAT
Oleh: Adi Renovurdum
suatu kali, ketika sedang bersih-bersih
kutemukan ratusan surat terbungkus rapi di atas lemari
paling tinggi
ku ambil, ku susuri kalimat demi kalimat yang mengalir
ku seru bapak, "kutemukan surat di atas lemari, punya siapa?"
"sudah, baca saja" suruhnya
"aku tak bisa baca" jawabku
"bacalah" suruhnya lagi
"tak bisa pak, benar benar tak bisa" imbuhku
"bacalah"
dan kali ini, ketika sedang bersih-bersih kembali
ada kobaran api dari tubuhku di cermin
suatu kali, ketika sedang bersih-bersih
kutemukan ratusan surat terbungkus rapi di atas lemari
paling tinggi
ku ambil, ku susuri kalimat demi kalimat yang mengalir
ku seru bapak, "kutemukan surat di atas lemari, punya siapa?"
"sudah, baca saja" suruhnya
"aku tak bisa baca" jawabku
"bacalah" suruhnya lagi
"tak bisa pak, benar benar tak bisa" imbuhku
"bacalah"
dan kali ini, ketika sedang bersih-bersih kembali
ada kobaran api dari tubuhku di cermin
Memori
Oleh: Adi Renovurdum
Di masjid
ada kang romi
yang tempo hari
perang tanding
dengan kang jupri
meringkuk sendiri dia di makan sepi
ah, mungkin bertobat kali
pikirku …
sudah kapok di bui
atau trauma di hajar pak polisi
lik siprop tetanggaku yang lulusan
perguruan tinggi negri ini
yang gelarnya bikin ngeri dan merinding
berujar kira kira begini,
“ Sampah masyarakat seperti Romi itu harusnya tak di keluarkan dari jeruji besi. Selalu membuat keributan dan meresahkan masyarakat. Bangsa ini tidak membutuhkan orang orang seperti dia. Tak berpendidikan, tak punya moral dan etika. Apa yang sanggup ia berikan bagi bangsa kita ini. Sekali bajingan, seterusnya ya tetap bajingan!.”
ah, anak desa sepertiku masih terlalu kecil untuk bisa mengerti
aku lalu pamit pulang pada pak kyai
yang mengajariku mengaji di masjid
sembari berharap masih bisa bertemu
kang romi esok hari.
Di masjid
ada kang romi
yang tempo hari
perang tanding
dengan kang jupri
meringkuk sendiri dia di makan sepi
ah, mungkin bertobat kali
pikirku …
sudah kapok di bui
atau trauma di hajar pak polisi
lik siprop tetanggaku yang lulusan
perguruan tinggi negri ini
yang gelarnya bikin ngeri dan merinding
berujar kira kira begini,
“ Sampah masyarakat seperti Romi itu harusnya tak di keluarkan dari jeruji besi. Selalu membuat keributan dan meresahkan masyarakat. Bangsa ini tidak membutuhkan orang orang seperti dia. Tak berpendidikan, tak punya moral dan etika. Apa yang sanggup ia berikan bagi bangsa kita ini. Sekali bajingan, seterusnya ya tetap bajingan!.”
ah, anak desa sepertiku masih terlalu kecil untuk bisa mengerti
aku lalu pamit pulang pada pak kyai
yang mengajariku mengaji di masjid
sembari berharap masih bisa bertemu
kang romi esok hari.
BALUNG PISAH
Nalika lebaran
balung-balung sing padha pisah
nglumpuk ana dalem simbah
kabeh saka njaba kutha
minggir, ngadem menyang grapyak desa
wengine banjur metani tangga teparo
sing wis mentas saka ukara badha..
balung-balung sing padha pisah
nglumpuk ana dalem simbah
kabeh saka njaba kutha
minggir, ngadem menyang grapyak desa
wengine banjur metani tangga teparo
sing wis mentas saka ukara badha..
MAHASISWA KUPU-KUPU
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
berangkat ngampus kalau ada kuliah
pulang bila kuliah kelar
nanti siang berangkat lagi kalau ada kuliah
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
sebuah fenomena menyedihkan
haruskah begini para kaum INTELEKTUAL?
apakah hanya nilai A predikat sangat memuaskan yang dibutuhkan?
tanpa harus merespon keadaan masyarakat disekitar?
tanpa harus merespon pemerintahan?
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
siang hanya sihabiskan untuk tidur-tiduran
lewati malam dengan pacaran
di rektorat terjaring keamanan
eh.... Hotspot-an dijadikan alasan
Mahasiswa menelan mentah-mentah kemajuan jaman
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
berangkat ngampus kalau ada kuliah
pulang bila kuliah kelar
nanti siang berangkat lagi kalau ada kuliah
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
sebuah fenomena menyedihkan
haruskah begini para kaum INTELEKTUAL?
apakah hanya nilai A predikat sangat memuaskan yang dibutuhkan?
tanpa harus merespon keadaan masyarakat disekitar?
tanpa harus merespon pemerintahan?
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
siang hanya sihabiskan untuk tidur-tiduran
lewati malam dengan pacaran
di rektorat terjaring keamanan
eh.... Hotspot-an dijadikan alasan
Mahasiswa menelan mentah-mentah kemajuan jaman
Kuliah-Pulang......
Kuliah-Pulang......
LELAKON
Pancen lelakon uripku iki.........
Durung bisa gawe senenge atimu
Goda lan coba urip ing alam donya
Kuwi peparinge kang Maha Kuasa
Tak tampa kanti ati legowoooooooooooo..............
Durung bisa gawe senenge atimu
Goda lan coba urip ing alam donya
Kuwi peparinge kang Maha Kuasa
Tak tampa kanti ati legowoooooooooooo.........
SENGKUNI DADI PANGUWASA NAGARA
Oleh:
Adhipati Genk Kobra
Kayane durung pernah ana dalang sing jupuk lelakon iki
wong pancen sejatine ya ora wangun
yen petruk dadi raja malah wis ana!!!
wong sejatine petruk uga keturunan dewa
kalebu ana ing PANDAWA LIMA
sengkuni iku kalebu wong kang seneng adu-adu
balane para butha, sak elek-eleke uwong ing donya pewayangan
ning yen dadi panguwasa apa ya bisa ngatur nagara???
wong gur modal tampang, trus golek masa....
nyatane ing salah sijining nagara ing kana ya ana
para pegawe diundaki gajine supaya gelem melu
wong bodho diadu, yen wes padu teka kaya dene pahlawan
aku sengkuni......
aku panguwasa nagri...
kowe kabeh padha dak apusi....
Adhipati Genk Kobra
Kayane durung pernah ana dalang sing jupuk lelakon iki
wong pancen sejatine ya ora wangun
yen petruk dadi raja malah wis ana!!!
wong sejatine petruk uga keturunan dewa
kalebu ana ing PANDAWA LIMA
sengkuni iku kalebu wong kang seneng adu-adu
balane para butha, sak elek-eleke uwong ing donya pewayangan
ning yen dadi panguwasa apa ya bisa ngatur nagara???
wong gur modal tampang, trus golek masa....
nyatane ing salah sijining nagara ing kana ya ana
para pegawe diundaki gajine supaya gelem melu
wong bodho diadu, yen wes padu teka kaya dene pahlawan
aku sengkuni......
aku panguwasa nagri...
kowe kabeh padha dak apusi....
Langganan:
Komentar (Atom)
